Puasa Hari Pertama, Menggelisahkan?

Shaum atau puasa bagi umat islam adalah menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan yang membatalkan puasa, mulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat dan ketentuan untuk meningkatkan tetaqwaan seorang muslim (wikipedia).

Adapun hal-hal yang membatalkan puasa diantaranya adalah makan dan minum dengan sengaja, melakukan jima di siang hari, muntah dengan disengaja, merokok,kehilangan akal sehat, haid, nifas dan murtad.

Sudah menjadi pemandangan umum bagi masyarakat ketika menyambut datanganya bulan suci Ramadhan. Masyarakat dengan antusias berbondong-bondong mendatangi pasar-pasar tradisional maupun pasar modern untuk berbelanja kebutuhan puasa pada hari pertama. Mereka berpendapat bahwa makan sahur dan berbuka puasa pada hari pertama haruslah istimewa dengan menu istimewa yang sepertinya “diada-adakan”.

Belum lagi di restoran-restoran. Sehari menjelang puasa pertama, hampir di setiap sudut restoran, meja- meja terisi penuh dengan customer yang sedang santap siang bersama keluarga besar. Semua menu tersaji dan disantap dengan lahap, seolah-olah siang itu adalah makan siang terakhir dan tak akan bertemu lagi dengan makan siang.

Apakah puasa (shaum) hari pertama begitu menggelisahkan sehingga harus menyiapkan menu istimewa supaya puasa esok hari “kuat” sejak terbit fajar hingga terbenam matahari? Atau saking gelisahnya sehingga tak lagi berhitung isi dompet untuk mengajak keluarga besar makan di restoran?

Padahal puasa mengajarkan kesederhanaan, ikut merasakan penderitaan saudara yang tidak mampu. Puasa adalah obat bagi si sakit. Puasa adalah mengistirahatkan kerja lambung yang selama sebelas bulan bekerja keras. Karena puasa itu sendiri adalah menahan hawa nafsu dari sesuatu yang berlebihan, maka sebaiknya berbuka puasa dan sahurlah dengan sederhana. Tak perlu gelisah menyambut hari pertama puasa Ramadhan dengan menu yang diada-adakan atau makan siang di luar, cukupkan niat dengan hati yang suci sejak terbit fajar hingga terbenam matari, hingga Ramadhan berakhir. Makan dan minum secukupnya sekedar agar tubuh sehat selama berpuasa. (NIA)

93 total views, 1 views today

Author: NIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *