Perceraian, Tinjauan Keadilan Bermartabat

Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam menyatakan bahwa perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Akan tetapi, dalam kenyataannya tidak semua perkawinan dapat mewujudkan tujuan dari perkawinan itu, bahkan seringkali perkawinan harus putus di tengah jalan. Salah satu cara putusnya perkawinan adalah perceraian, disamping kematian dan putusan pengadilan. Perceraian yang seharusnya hanya dilakukan sebagai tindakan terakhir setelah segala usaha dan daya upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kehidupan perkawinan yang ternyata tidak ada jalan kecuali dengan perceraian.

Perceraian seharusnya hanya dilakukan ketika dalam keadaan darurat untuk tidak menimbulkan madharat yang lebih besar. Oleh karena itu perceraian merupakan pintu darurat perkawinan guna keselamatan bersama.1) Namun tetap harus secara berkeadilan bermartabat, yakni keadilan yang nguwongke wong, memanusiakan manusia.

Perceraian dapat disebabkan oleh banyak faktor, antara lain dengan terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh salah satu pihak (suami atau isteri). Perilaku destruktif dalam rumah tangga atau sering disebut dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali ditemukan di dalam sebuah perkawinan, dan tidak jarang pada akhirnya menjadi sebab terjadinya perceraian. Tindak kekerasan dalam rumah tangga ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ekonomi, lingkungan, psikologi, dan lain sebagainya.

Perkawinan yang dijalani dalam kondisi yang tidak baik apalagi diwarnai perilaku destruktif, jika hal tersebut tidak dapat diatasi maka mempertahankan perkawinan tersebut adalah hal yang sia-sia. Apabila dari perkawinan tersebut terjadi percekcokan terus-menerus, adanya perilaku destruktif sehingga kebahagiaan dan ketentraman tidak dapat terwujud, maka perceraian merupakan sebuah solusi dari problematika rumah tangga yang ada.

Semoga bermanfaat. (MK)

51 total views, 1 views today

Author: Muh Khambali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *