Piagam Madinah, Deklarasi HAM Paling Pertama

Barangkali tidak sedikit orang Islam yang tidak mengerti -atau setidaknya lupa- akan sebuah dokumen sejarah monumental dalam perjalanan peradaban Islam yang dikenal dengan “Piagam Madinah” Adalah perjanjian antara kaum Muhajirin dan Anshar dengan orang-orang Yahudi (Quraisy) untuk hidup berdampingan secara damai, baik dalam hidup beragama maupun bermasyarakat.

Piagam Madinah merupakan dokumen politik yang mengagumkan dalam sejarah perkembangan Islam, momentum yang belum pernah dialami oleh nabi atau rosul lain. Inilah dokumen politik yang telah diletakkan Nabi Muhammad sejak 1350 tahun yang lalu dan telah menetapkan adanya seperangkat hak asasi manusia seperti: kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat, keselamatan harta-benda dan lkarangan orang melakukan kejahatan. Ia telah membukakan pintu baru dalam kehidupan politik dan peradaban dunia masa itu, dari mkekuasaan tirani yang kejam menuju kehidupan yang demokratis dan beradab.

Jika memahami isi piagam tersebut  jelaslah bahwa Piagam Madinah telah menunjukkan kebesaran ajaran Islam yang bersifat universal, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Manusia ditempatkan pada kedudukan yang paling terhormat di antara makhluk-makhluk lainnya dengan segala hak yang melekat padanya sejak lahir. Dengan demikian ajaran Islam sejak awal lahirnya telah mengakui adanya hak-hak asasi manusia, jauh sebelum lahirnya Piagam Hak Asasi Manusia Sedunia (Univerdal Declaration of Human Rights) dan piagam-piagam hak asasi lainnya. Adapaun isi Piagam Madinah selengkapnya adalah sebagai berikut :

  • Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Syarat Perjanjian ini dari Muhammad  Nabi; antara orang-orang beriman dan kaum Muslimin dari kalangan Quraisy dan Yathrib serta yang mengikut mereka dan menyusul mereka dan berjuang bersama-sama mereka; bahwa mereka adalah satu umat, diluar golongan orang lain.
  • Kaum Muhajirin dari kalangan Quraisy tetap menurut adat kebiasaan baik yang berlaku1 dikalangan mereka, bersama-sama menerima atau membayar tebusan darah2 antara sesama mereka dan mereka menebus tawanan mereka sendiri dengan cara yang baik dan adil diantara sesama orang-orang beriman.
  • Bahwa Banu ‘Auf adalah tetap menurut adat kebiasaan baik mereka yang berlaku, bersama-sama membayar tebusan darah seperti yang sudah-sudah. Dan setiap golongan harus menebus tawanan mereka sendiri dengan cara yang baik dan adil diantara sesama orang-orang beriman. Kemudian disebutnya tiap-tiap suku3 Anshar itu serta keluarga tiap puak: banu’l-Harith, Banu Sa’ida , Banu Jusyam, banu’n-najjar, Banu’Amr b. ‘Auf dan Banu’n-Nabit. Selanjutnya disebutkan.
  • Bahwa orang-orang yang beriman tidak boleh membiarkan seseorang yang menanggung beban hidup dan utang yang berat diantara sesama mereka. Mereka harus dibantu dengan cara yang baik dalam membayar tebusan tawanan atau membayar diat.
  • Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh mengikat janji dalam menghadapai mukmin lainnya.
  • Bahwa orang-orang yang beriman dan bertaqwa harus melawan orang yang melakukan kejahatan diantara mereka sendiri, atau orang yang suka melakukan perbuatan aniaya, kejahatan, permusuhan atau berbuat kerusakan diantara orang-orang beriman sendiridn mereka semua harus sama-sama melawannya walaupun terhadap anak sendiri.
  • Bahwa seseorang yang beriman tidak boleh membunuh sesama mukmin lantaran orang kafir untuk melawan orang beriman.
  • Bahwa jaminan Allah itu satu: Dia melindungi yang lemah diantara mereka.
  • Bahwa orang-orang yang beriman itu hendaknya saling tolong-menolong satu sama lain.
  • Bahwa barangsiapa dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut kami, ia berhak mendapat pertolongan dan persamaan; tidak menganiaya atau melawan mereka.
  • Bahwa persetujuan damai orang-orang beriman itu satu’ tidak dibenarkan seorang mukmin mengadakan perdamaian sendiri dengan meninggalkan mukmin lainnya dalam keadaan perang di jalan Allah. Mereka harus sama dan adil adanya.
  • Bahwa setiap orang yang berperang bersama kami, satu sama lain harus saling bergiliran.
  • Bahwa orang-orang beriman itu harus saling membela terhadap sesamanya yang telah tewas di jalan Allah.
  • Bahwa orang-orang yang beriman dan bertaqwa hendaknya berada dalam pimpinan yang baik dan lurus.
  • Bahwa orang tidak boleh melindungi harta-benda atau jiwa orang Quraisy dan tidak boleh merintangi orang beriman.
  • Bahwa barangsiapa membunuh orang beriman yang tidak bersalah dengan cukup bukti , maka ia harus mendapat balasan yang setimpal, kecuali boila keluarga si terbunuh ukarela (menerima tebusan).
  • Bahwa orang-orang yang beriman harus menentangnya semua dan tidak dibenarkan mereka hanya tinggal diam.
  • Bahwa seseorang yang beriman yang telah mengakui isi piagam ini dan percaya kepada Allah dan kepada hari kemudian, tidak dibenarkan menolong pelaku kejahatan atau membelanya, dan bahwa barangsiapa yang menolongnya atau melindunginya, ia akan mendapat kutukan dan murka Allah pada hari kiamat, dan tidak ada sesuatu tebusan yang dapat diterima.
  • Bahwa bilamana diantara kamu timbul perselisihan tentang sesuatu masalah yang bagaimanapun , maka kembalikanlah itu kepada Allah dan kapada Muhammad ‘alaihishshalatu wassalam.
  • Bahwa orang-orang Yahudi Banu’ Auf adalah satu umat denga orang-orang beriman. Orang-orang Yahudi hendaknya berpegang pada agama mereka, dan orang-orang Islam pun  hendaknya berpegang pada agama mereka pula, termasuk pengikut-pengikut mereka dan diri mereka sndiri, kecuali orang yang melakukan perbuatan aniaya dan durhaka. Orang semacam ini hanyalah akan menghancurkan dirinya dan keluarganya sendiri.
  • Bahwa terhadap orang-orang Yahudi di Banu’n-Najjar, Yahudi Banu’l-Harith, Yahudi Banu Sa’ida, Yahudi Banu-Jusyam, Yahudi Banu Aus, Yahudi Banu’ Tha’laba, Jafna dan Banu Syutaiba, 1 berlaku sama seperti terhadap mereka sendiri.
  • Bahwa tiada seorang dari mereka itu boleh keluar kecuali dengan izin Muhammad s.a.w.
  • Bahwa seseorang tidak boleh dirintangi menuntut haknya karena dilukai; dan barangsiapa yang diserang ia dan keluarganya harus berjaga diri, kecuali jika ia menganiaya. Bahwa Allah juga yang menentukan ini.
  • Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri dan kaum Muslimin pun berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri pula. Antara mereka harus ada tolong-menolong dalam menghadapi orang yang hendak menyerang pihak yang mengadakan piagam perjanjian ini.
  • Bahwa mereka sama-sama berkewajiban, saling nasehat-menasehati dan saling berbuat kebaikan dan menjauhi segala perbuatan dosa.
  • Bahwa seseorang tidak dibenarkan melakukan perbuatan salah terhadap sekutunya, dan bahwa yang harus ditolong ialah yang teraniaya.
  • Bahwa orang-orang Yahudi berkewajiban mengeluarkan belanja bersama orang-orang beriman selama masih dalam keadaan perang.
  • Bahwa kota Yathrib adalah kota yang dihormati bagi orang yang mengakui perjanjian ini.
  • Bahwa tetangga itu seperti jiwa sendiri, tidak boleh diganggu dan diperlakukan dengan perbuatan jahat.
  • Bahwa tempat yang dihormati itu tak boleh didiami orang tanpa izin penduduknya.
  • Bahwa bila diantara orang-orang yang mengakui perjanjian ini terjadi suatu perselisihan yang dikuatirkan akan menimbulkan kerusakan, maka tempat kembalinya kepada allah dan kepada Muhammad Rasulullah s.a.w. dan bahwa Allah bersama orang yang teguh dan setia memegang perjanjian ini.
  • Bahwa melindungi orang-orang Quraisy atau menolong mereka tidak dibenarkan.
  • Bahwa antara mereka harus saling membantu melawan orang yang mau menyerang Yathrib ini. Tetapi apabila telah diajak berdamai maka sambutlah ajakan perdamaian itu.
  • Bahwa apabila mereka diajak berdamai, maka orang-orang yang beriman wajib menyambutnya, kecuali kepada orang yang memerangi agama. Bagi setiap orang, dari pihaknya sendiri mempunyai bagiannya masing-masing.
  • Bahwa orang-orang Yahudi Aus, baik diri mereka sendiri atau pengikut-pengikut mereka mempunyai kewajiban seperti mereka yang sudah menyetujui naskah perjanjian ini.
  • Bahwa kebaikan itu bukanlah kejahatan dan bagi orang yang melakukanyya hanya akan memikul sendiri akibatnya. Dan bahwa Allah bersama pihak yang benar dan patuh menjalankan isi perjanjian ini.
  • Bahwa orang tidak akan melanggar isi perjanjian ini, kalau ia bukan orang yang aniaya dan jahat.
  • Bahwa barangsiapa yang keluar atau tinggal dalam kota Medinah ini, keselamatannya tetap terjamin, kecuali orang yang berbuat aniaya dan melakukan kejahatan.
  • Sesungguhnya  Allah melindungi orang yang berbuat kebaikan dan bertaqwa.

Semoga bermanfaat. (MKH)

119 total views, 1 views today

Author: Muh Khambali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *